Jembatan Penyeberangan

Jembatan penyeberangan yang aku tahu di Semarang ada sekitar sembilan; di Banyumanik satu, di Jatingaleh satu, di Kesatrian ada dua ( di pertigaan kesatrian sama di depan sekolah iti), di pasar Peterongan satu, di pasar Johar satu, di Bulu satu, di Karangayu satu, dan di Krapyak satu. Itu yang aku tahu. Mungkin masih ada di tempat lain. Masihkah kita menggunakan jembatan penyeberangan untuk menyeberang jalan? Yang jawab ya mungkin sedikit, karena memang jarang orang

memanfaatkan jembatan penyeberangan untuk menyeberang jalan. Orang-orang lebih suka menyebrang langsung jalan raya. Alasan kenapa tidak menggunakan jembatan penyeberangan padahal ada jembatan penyeberangan di dekatnya adalah karena tidak praktis, capek harus naik turun tangga.

Mungkin jembatan penyeberangan adalah salah satu fasilitas yang dibuat pemerintah jadi mubadzir karena sangat sedikit yang menggunakannya. Mungkin perlu suatu terobosan baru agar orang mau menggunakan jembatan penyeberangan. Seperti, membuatnya seperti jembatan yang menghubungkan Mall Citraland dengan Plaza Simpang 5 Semarang, yaitu dibuat toko atau kios-kios, mungkin juga dibuat cafe pada malam hari. Kalau misalkan di atas jembatan penyeberangan dibuat tempat usaha, orang tidak hanya sekedar menyeberang tetapi juga bisa melihat-lihat dagangan yang dijajakan. Kalaupun misalnya tidak digunakan untuk fungsi lain, mungkin jembatan dibuat lebih menarik, seperti dibuat jadi lebih sejuk. Jembatan penyeberangan juga kalau bisa dibuat lebih tertutup, maksudnya dibuat orang yang lewat tidak bisa melihat lalu lalang kendaraan dibawahnya, ini tujuannya untuk mengakomodir mereka yang takut ketinggian. Sehingga orang yang takut ketinggian juga bisa menggunakan fasilitas umum tersebut.

Kalau saya, lebih cenderung memilih menggunakan jembatan penyeberangan untuk penggunaan lain, semisal untuk tempat usaha atau cafe mungkin. Alasannya selain bisa menambah pendapatan pemerintah dari persewaan tempat, juga membuka lapangan pekerjaan. Tapi ya semua itu tergantung pemerintah, saya hanya mengemukakan imajinasi saya.

Bagaimana dengan imajinasi Anda?

Perbaikan Saluran Air

Saat ini di beberapa ruas jalan di Semarang, terutama di daerah yang kalau hujan mudah sekali menjadi banjir, berlangsung perbaikan saluran air atau gorong-gorong atau selokan. Selokan dibuat lebih lebar dan dalam dengan memasang box culvert. Diharapkan dengan dibuat lebih lebar dan dalam, ketika hujan tidak menyebabkan banjir di tempat tersebut. Selama ini, tempat-tempat yang sekarang diperbaiki selokan atau gorong-gorongnya, kalau hujan sedikit pasti sudah banjir.

Tempat-tempat yang selokan atau gorong-gorongnya diperbaiki yaitu di jalan Atmodirono, jalan Kimangunsarkoro, Kampung kali, dan Johar.

Sekarang sudah memasuki musim hujan, pengen tahu hasil dari perbaikan selokan dan gorong-gorong, apakah masih menyebabkan banjir atau tidak. Semoga saja perbaikan selokan atau gorong-gorong ini efektif mengatasi banjir di jalan tersebut, karena ada juga saluran air atau selokan atau gorong-gorongnya sudah diperbaiki dan dibuat lebih lebar dan dalam, tetapi tidak efektif karena pemilik bangunan disekitarnya tidak mengalirkan air ke selokan tersebut tetapi membiarkan air dari bangunannya mengalir ke jalan. Semoga perbaikan saluran air di tempat-tempat tersebut di atas, kasusnya tidak seperti yang saya utarakan tadi. Sudahdibuatkan saluran air yang baik harap dimanfaatkan dengan sebaiknya. Jangan digunakan untuk membuang sampah, atau malah di atasnya digunakan untuk berjualan. Kalau banjir, kita yang rugi sendiri. Iya tidak?

Brave, Tontonan Oke di Hari Ibu

Sebelumnya saya ucapkan selamat hari Ibu untuk ibu-ibu di seluruh dunia.

Kenapa saya merekomendasikan film Brave? Karena film ini bercerita tentang hubungan ibu dengan anaknya, dalam film ini diwakili oleh Elenor dengan putrinya Merida. Sebagai seorang

putri raja, Merida harus menerima takdirnya yaitu dinikahkan dengan salah satu anak bangsawan yang diundang raja, sedangkan dia sendiri belum siap untuk memilih. Elenor sebagai permasuri sekaligus Ibu dari Merida memaksa putrinya untuk memilih satu dari tiga pangeran yang datang ke kerajaannya.

Keras kepala bertemu keras kepala. Masing-masing ingin mempertahankan pendapatnya tanpa mau mendengar pendapat orang. Jadilah seperti film animasi Brave ini. Merida mungkin akan menyesal seumur hidupnya jika saja dia tidak mampu mengembalikan Ibunya seperti semula. Begitu juga Elenor, tidak akan memahami keinginan putrinya kalau tidak terjadi kejadian yang menimpanya.

Film Brave ini bisa jadi pelajaran bagi kita semua. Apakah harus ada pengalaman dulu baru bisa memahami? Kalau harus pengalaman dulu, resikonya bisa berbahaya, seperti film Brave ini. Kalau dalam contoh nyata kehidupan saat ini, misal seorang anak cewek dipaksa menikah dengan pilihan orang tua (ini bukan jaman Siti Nurbaya, tapi memang masih ada), tetapi karena tidak mau anak cewek tersebut minggat dari rumah. Apakah harus ada peristiwa minggat ini untuk bisa memahami keinginan anak?

Tidak cuma untuk urusan tersebut di atas, kadang dibidang pendidikan, orang tua juga memaksakan anaknya. Contohnya, harus kuliah di jurusan ini, harus bisa masuk sekolah favorit ini, nilai rapot harus segini. Seorang anak adalah makhluk hidup juga seperti orang tuanya, mereka bukan benda mati seperti ruangan yang bisa kalian cat warna apa saja dan menaruh barang apa saja di dalamnya. Mereka punya keinginan, harapan, cita-cita, dan selera sendiri. Biarkan mereka mengecat kehidupan mereka sendiri, menaruh puzzle-puzzle dalam kehidupannya sendiri.

Memang, orang tua terutama seorang ibu tidak terkira jasanya bagi anak-anaknya. Tetapi banyak yang bilang, kalau tugas mereka adalah mendidik dan mengarahkan. “Ruanganmu enaknya dicat warna ini, dikasih barang ini, dan diatur seperti ini” Kalau nanti mereka mengecat dengan warna lain, menaruh barang-barang lain, dan mengatur ruangan berbeda dengan arahan orang tua, biar saja, kalau tidak melanggar agama dan membahayakan diri sendiri dan orang lain, kenapa dilarang?

Untuk para Ibu dan juga anak-anaknya, cobalah nonton film Brave ini dan ambil pelajaran darinya.

Sekali lagi, selamat hari Ibu. Jasamu tak terkira banyaknya.

Belajar dari How to Train Your Dragon

How to train your dragon adalah sebuah film anime yang bercerita tentang peperangan antara manusia melawan naga. Lebih tepatnya, naga-naga menyerang perkampungan untuk mengambil makanan kampung yang diserang tersebut. Cerita yang mengambil latar belakang dongeng viking ini menceritakan seorang viking muda yang bernama Hiccup, kalau dalam subtittle disebut ‘Cegukan’. Di awal cerita dikisahkan jika viking muda ini ingin membantu melawan naga-naga yang menyerang, sempat di larang, tetapi karena sibuk melawan naga, cegukan mampu menyelinap keluar dengan membawa sebuah benda yang dia dorong┬ákeluar. Benda tersebut ternyata sebuah alat untuk menangkap naga. Dia kemudian membidik dan shoot… sepertinya bidikan cegukan mengenai sebuah naga. Tetapi sedetik kemudian sebuah naga besar menyerangnya, untung saja bapak Cegukan menolongnya.

Keesokan harinya, tanpa sepengatuan siapa pun, cegukan pergi ke dalam hutan. Mungkin karena kesal dimarahi bapaknya tadi malam karena keteledorannya yang bisa menyebabkan nyawanya sendiri melayang. Di dalam hutan itulah dia bertemu seekor naga yang sepertinya adalah naga yang kena bidikannya tadi malam. Dibebaskannya naga tersebut. Dari pertemuan dengan naga inilah awal Hiccup mempelajari tentang naga, termasuk membuatkan sirip ekor sebelah kiri naga yang patah. Naga yang kemudian menjadi teman Hiccup adalah jenis naga yang langka, belum pernah ada orang yang berhasil melihat apalagi memukul. Orang-orang menyebutnya Night Fury. Dari berteman dengan night fury ini, Cegukan jadi tahu kelemahan naga. Contohnya, naga takut pada ular loreng-loreng, naga suka pada rumput tertentu, dll. Kelemahan-kelemahan yang diketahui itu diterapkan dalam pelatihan melawan naga, dan berhasil. Orang-orang jadi heran, kok dia bisa menaklukkan naga dengan mudah.

Suatu hari, cegukan mengajak Astrid, seorang cewek yang curiga dan penasaran dengan tingkah polah cegukan yang mencurigakan. Mereka terbang naik night fury. Mereka terbang kesana kemari, naik ke awan, terbang di atas laut. Tanpa disadari, mereka berada dalam kerumunan naga yang terbang menuju ke sebuah tempat.Mereka mengikuti naga-naga tersebut yang ternyata memasuki sebuah goa. Di dalam goa, naga-naga menjatuhkan makanan yang dibawanya. Ada seekor naga hanya menjatuhkan makanan yang berupa ikan kecil, tiba-tiba dari dasar keluar monster yang sangat besar mencaplok naga yang menjatuhkan ikan kecil tersebut. Melihat peristiwa tersebut, Cegukan jadi tahu, ternyata selama ini naga-naga mencuri makanan dan menyerang desa hanya untuk menyetor makanan ke monster besar tadi. Kalau tidak menyetor, akan dimakan.

Singkat cerita, cegukan bersama rekan-rekannya di pelatihan bekerja sama dengan naga-naga yang telah ditangkap untuk menyerang monster naga besar. Akhirnya, Cegukan yang dibantu naga night fury mampu mengalahkan monster naga. Cerita selanjutnya, orang-orang hidup bersama dengan naga-naga yang dulu menyerang dan mencuri makanan mereka.

Apa yang bisa kita pelajari dari film di atas. Saya jadi ingat konflik pengurus sepakbola di Indonesia, yaitu antara PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) dengan KPSI (Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia). Konflik dua pengurus sepakbola Indonesia ini seperti pertarungan antara orang dengan naga di film tersebut di atas. Dalam film, orang dan naga akhirnya bersatu untuk menyelesaikan masalah yang lebih besar. Dengan tumbangnya monster naga, maka naga-naga tidak perlu lagi menyetor makanan ke monster, yang berarti juga tidak perlu menyerang perkampungan untuk mendapatkan makanan.

Pertarungan PSSI dan KPSI seharusnya tidak perlu terjadi jika mereka tahu masalah yang lebih besar yang harus dituntaskan, yaitu PRESTASI sepakbola Indonesia. Pengelolaan sepakbola saja semrawut, bagaimana mau berprestasi. Jadi, saya pikir pengurus PSSI dan KPSI perlu nonton bareng film ini kemudian dapat mengambil hikmah darinya. Bersatulah wahai pengurus sepakbola ndonesia.